Selasa, 04 Maret 2014

Macapat

          Macapat adalah tembang atau puisi tradisionalnya orang Jawa biasanya lebih ke Jawa Tengah.Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam 'daftar isi' saja. 
          Macapat di golongkan menjadi 15 yang terdiri atas Sekar(Tembang) Macapat/Tembang Alit, Sekar Madya/ Sekar Tengahan, dan Sekar Ageng. Jenis- jenis Macapat :
A. Sekar(Tembang) Macapat/Tembang Alit : Dhandanggula, Maskumambang, Pucung,              Sinom, Asmaradana,Kinanti, Pangkur, Durma, Mijil.
B. Sekar Madya/ Sekar Tengahan Gambuh, Megatruh, Jurudemung, Wirangrong, Balabak.
C. Sekar Ageng : Garisa.


  • Arti dari setiap Macapat
1.  Dhandanggula
           diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.

2. Maskumambang
               berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambangselain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.




  • 3. Pucung
                   adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.



  • 4. Sinom
                  perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.



  • 5. Asmaradana
                   berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.



  • 6. Kinanti
                    berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.



  • 7. Pangkur
                    berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.




  • 8. Durma
                  dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.



  • 9. Mijil
               berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.



  • 10. Gambuh
                  berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.



  • 11. Megatruh
                   berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.



  • 12. Jurudemung
                    berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.



  • 13. Wirangrong
                    berarti trenyuh ( sedih ), nelangsa ( penuh derita ), kapirangu ( ragu-ragu ),. Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.



  • 14. Balabak


  • dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.


  • 15. Garisa



  • berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.

    •  Guru gatra , Guru wilangan dan Guru lagu di setiap Macapat:
       Mijil                   : 6 : 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u
       Sinom                : 9 : 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a
       Kinanthi             : 6 : 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i,
       Asmarandana     : 7 : 8a, 8i, 8e, 8a, 7a, 8u, 8a
       Durma               : 7 : 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i
       Pangkur              : 7 : 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i
       Maskumambang  : 4 : 12i, 6a, 8i, 8a
       Pucung               : 4 : 12u, 6a, 8i, 12a
       Jurudhemung       : 7 : 8a, 8u, 8u, 8a, 8u, 8a, 8u
       Wirangrong         : 6 : 8i, 8o, 10u, 6i, 7a, 8a
       Balabak              : 6 : 12a, 3e, 12a, 3e, 12u, 3e
       Gambuh              : 5 : 7u, 10u, 12i, 8u, 8o
       Megatruh            : 4 : 12u, 8i, 8u, 8i
       Girisa                  : 8 : 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8a, 8a
       Dhandhanggula    :10 :10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar